Monday, November 14, 2011

~ Jiwa dan Raga ~

By. Sekar Samantha


Kususuri malam demi malamku sendiri

Hingga pada malam ini, kudapati diriku telah melangkah sejauh lelah

Dingin, tapi tak membuatku jera..

Lelah, tapi tak kurasa..

Semakin jauh ku melangkah, semakin jauh pula anganku tuk bertemu denganNYA..

Apapun akan kulakukan demi untuk bertemu dengan DIA..

Entah kapan?

Tak kan pernah ada yang tahu..

Namun,

Menapaki jalanan ini, tidaklah semudah yang kukira ternyata..

Tak semulus yang kupikirkan sebelumnya..

Sampai pada saat ini, kutemukan jiwaku tengah terperangkap pada raga yang layu..

Sesosok raga yang mematung dengan mata yang kuyu..

Sesosok raga yang tengah layu dengan mulut membisu..

Seperti mati, namun tidak mati..

Mengerikan..

Sayup-sayup kudengar jiwa berteriak memanggil-manggil sang raga..

Namun raga tetap tak jua bergeming..

Tak jua terbangun dari mimpi-mimpinya..

Sulit bagiku tuk mengingat, sejak kapan raga menjadi seperti ini?

Raga yang ku kenal dulu, tak pernah seperti ini..

Tak pernah berhenti melangkah..

Namun kini,

Dengan tiba-tiba raga berhenti melangkah begitu saja..

Mematung dan tak sedikitpun beranjak dari peraduan..

Sembilu menyayat hati sang jiwa..

Nun jauh disana, kembali kudengar sang jiwa memanggil-manggil sang raga..

Detik demi detikpun terlewati, namun sang jiwa tak pernah terdengar membisu sedikitpun..

Entah sudah berapa ribu detik terlewati..

Jiwa yang kuat, tak kan pernah berhenti tuk bangunkan sang raga yang lemah..

Meski harus dengan menjerit-jerit..

Atau bahkan dengan berbisik sekalipun..

Karena jiwa yakin, bahwa raga akan kembali menyatu dengannya tuk kembali menapaki sisa waktu yang ada..

Sampai pada akhirnya, dengan segenap keyakinan dan keteguhan yang dimiliki sang jiwa..

Ragapun tersadar diri dari tidur panjangnya..

Dan siap kembali tuk menyusuri malam panjang yang tersisa bersama sang jiwa..

Karena Jiwa dan Raga adalah satu kesatuan yang tak terbantahkan..




Lautan Oranye

Lebak Bulus dan sekitarnya, 30 Januari 2010

Hawa dingin kembali menyelimuti tubuh, air hujan yang sedari tadi membasahi jilbab dan celana jeansku kini telah merembes, menerobos ke serat-serat kain dan kurasakan telah bersentuhan dengan kulit ariku. Dinginnya kurasakan sampai ketulang, ngilu. Andai saja sore ini tak turun hujan, pastinya aku tidak akan menggigil kedinginan seperti ini. Namun sayang, Tuhan telah berkehendak lain.

Beberapa waktu yang lalu, disaat hujan tengah membasahi bumi ini dengan derasnya, aku masih berkendara motor dengan seorang sahabat. Namun kini, aku telah beralih ke sebuah mikrolet berwarna biru, yang didalamnya hanya dapat kutemukan enam anak adam saja. Lima orang penumpang dan seorang sopir. Hawa yang dingin telah membuai mataku dan membuatnya terpejam dalam kurun waktu yang cukup lama. 

”Kiri bang..!!” ucap seorang penumpang pria kepada si empunya mobil. Dan akupun terjaga karenanya. Dengan mata setengah terpejam, kupandangi sekelilingku, dan ternyata penumpangpun telah berkurang. Kulirik arloji yang melekat dilenganku, jarum jam menunjukkan pukul tujuh. “Masih sore”, ucapku dalam hati. Dari sudut tempat dudukku, kulihat seorang ibu paruh baya tengah menggendong putranya yang kutaksir berusia empat tahun. Beberapa menit kemudian anak itu menangis dengan kencangnya, dan terus-terusan memanggil-manggil ayahnya, yang belakangan kuketahui bernama Amin. Meski terus saja menangis, sang ibu tidak pernah sekalipun berkeluh kesah, tetap bersabar dan berusaha untuk menenangkannya. Dengan memanggilnya Tommy, si ibu berusaha membujuk dan merayu agar si buah hatinya itu kembali tenang.

Ku akui, meskipun diluar sana hujan tengah turun sesuka hatinya, namun situasi di dalam mikrolet itu sangatlah sumpek, pengap, dan panas. Mungkin inilah salah satu penyebab mengapa anak tersebut menangis. Kembali kulirik arloji yang masih setia melekat dilenganku, ternyata jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh tiga puluh. Setengah jam telah berlalu, namun aku masih saja berkutat di depan Plaza 3 Pondok Indah. Itu artinya, aku hanya bergeser sekitar dua kilometer dari lampu merah Pondok Pinang. Ada apa gerangan? Ternyata kemacetan yang parah telah membuat mikrolet yang kutumpangi tidak berdaya. 

Kutebar pandangan keluar jendela kusam mikrolet itu, dan ternyata kemacetan disebabkan oleh kehadiran supporter bola. Hal seperti ini sebenarnya sudah biasa bagi kami yang tinggal di Ibu Kota dan sekitarnya. Namun sepertinya, kemacetan yang sekarang ini adalah kemacetan terparah yang pernah kualami. Tak terbayang, berapa ratus kepala yang tengah berada dijalanan. Dengan mengenakan baju dengan warna yang sama, merekapun seolah menjelma menjadi lautan oranye. 

Sepertinya para supporter ini membentuk beberapa kelompok, ada yang dengan santainya melenggang di jalan raya, ada pula yang memilih berkendara dengan sepeda motor, namun ada juga yang dengan gagap gempita menaiki metro mini atau truk. Dengan berbagai atribut dan peralatan apa adanya, merekapun saling bersahutan meneriakkan yel-yel kebanggannya. Alih-alih membela Tim Sepak Bolanya, akan tetapi yel-yel tersebut kedengarannya justru malah mengolok-olok Tim Lawan. Entahlah, mungkin ini hanya perasaanku saja.

Kembali kutebar pandangan keseluruh jalanan, hampir tidak ada ruang kosong, karena jalanan tersebut sudah menjadi lautan manusia. Setelah kucermati, ternyata rata-rata usia para supporter itu sebenarnya tidak kurang dari dua puluh tahun. Bahkan banyak diantaranya kemungkinan adalah para remaja usia SMP dan SMA. Merekapun berteriak-teriak, rusuh.

Rasa was-was mulai menyelimuti pikiranku, berbagai pikiran negatif berlomba-lomba sesaki kepalaku. “Bagaimana jika mobil ini dibajak?” batinku. Para supporter seperti mereka biasanya memang sering mengambil alih kendaraan umum secara paksa, untuk dijadikan sebagai kendaraan pribadi mereka. Tapi alhamdulillah, sampai dengan mikrolet yang kunaiki itu tiba di depan sebuah Supermarket besar di kawasan Lebak Bulus. Pikiran negatifku itu tidaklah menjadi kenyataan.

Kurasakan pegal-pegal mulai menggerayangi sekujur tubuhku. Penat, dan bosan hinggapi benakku. Bagaimana tidak? Satu jam telah berlalu, namun aku belum juga sampai tempat tujuan. Mikrolet yang kutumpangi itu, kini telah turut bergabung dengan barisan didepannya. Terhimpit dari sisi kanan maupun kiri. Dan jika bisa kau bayangkan, barisan tersebut tidak dapat bergeming sama sekali. Entah sudah berapa meter panjangnya.

Sejurus kemudian kudapati seorang penumpang wanita turun tiba-tiba, padahal ia baru saja bergabung denganku kira-kira lima belas menit yang lalu. Jika kuperhatikan, wanita tersebut memilih untuk berjalan kaki. ”Katja, kau harus ikuti wanita itu, berjalan kaki sajalah jika ingin cepat sampai tempat tujuan” Bisik sisi lain dari diriku. Setelah beberapa detik berfikir, akhirnya kuputuskan untuk berjalan kaki saja. 

Setelah bosan menunggu, hujanpun akhirnya reda. Dengan mengumpulkan sejuta nyali, akupun mulai menapakkan kaki di atas tanah yang lembab. Dengan tergesa-gesa, aku berjalan tanpa tengok kanan dan kiri. Dan tanpa kusadari, aku kini telah turut menyatu dengan lautan oranye. Bau alami tubuh mereka bercampur dengan bau asap rokok dimana-mana membuat perutku merasa mual. Sungguh menyesal aku berada didalam situasi seperti ini.

Seperti tak percaya, namun aku benar-benar telah berada ditengah-tengah kerumunan itu. Dan sepertinya, kehadiranku ini sangat mencolok sekali, karena aku memang tidak sedang menggunakan baju yang senada dengan warna baju mereka. Awalnya aku merasa ngeri, takut, dan was-was. Namun dengan doa mengiringi setiap langkah kakiku, kuyakin bahwa aku bisa melewatinya. Toh, aku bukan satu-satunya non-supporter yang berada dikerumunan itu. Setelah kuperhatikan, ternyata barisan mikrolet yang kunaiki itu terhenti di depan terminal Lebak Bulus. Dengan kata lain, kendaraan didepannya memang tidak jalan sama sekali. Terjebak dalam kemacetan yang benar-benar PARAH. ”Hemm, pilihan untuk berjalan kaki memang sangat tepat” Pikirku.

”Assalamu’alaikum bu”, sapaku pada seorang ibu yang tengah berjalan didepanku. ”Wa’alaikumsalam neng” jawabnya. ”Ibu mau pulang kemana, sendiri saja?” ”Iya neng, saya mau pulang ke daerah Gaplek, neng sendiri pulang kemana?” ”Saya mau ke Pamulang bu, kita jalan bareng saja yuk” ucapku pada ibu itu. Dan si ibupun mengangguk. Rasa takutkupun sirna, setelah aku berbincang dengan beliau. Akupun mengajaknya untuk berjalan kaki sampai Pasar Jum’at. Beliaupun mengangguk tanda setuju.

”Neng mau naik angkot apa?” ”Sepertinya naik angkot D15 bu, langsung ke Pamulang”. Memang biasanya aku jarang naik angkot tersebut, karena rutenya terlalu berputar-putar jika mau kembali kerumah, namun karena situasinya itu. Maka, aku memilih praktisnya saja. ”Yasudah, bareng saja sama ibu”. Sahut si ibu, yang aku sendiri lupa menanyakan namanya. Ah, betapa bodohnya aku. 

Setelah berjalan beberapa meter, akhirnya diperempatan jalan kami menemukan angkot D15, yang memang sedang berhenti mencari penumpang. Kamipun menaiki angkot tersebut bersama-sama. Tidak lama kemudian, angkotpun melaju hendak mengantarkan kami para penumpang ketujuan masing-masing. Jalanan yang lengang sangat membuat hatiku girang, karena sudah bisa dipastikan aku akan segera sampai rumah. 

”Stop pinggir bang..!!” ucap seorang wanita, yang tidak lain adalah si ibu yang berjalan bersama denganku tadi. ”Ibu turun duluan ya neng”, ”iya bu, hati-hati” sahutku kepada ibu itu. Tak terasa, hari telah larut, rasa kantuk kembali menyerangku dan tanpa sadar, akupun kembali tertidur didalam angkot. Beberapa menit kemudian, aku tersadar dari tidurku, dan mendapati jalanan yang sudah tidak asing lagi dari penglihatanku. Sebuah pertigaan yang sudah nyaris dekat dengan jalanan menuju rumahku. Aku sengaja menunggu sampai angkot itu berada di pemberhentian terakhir, karena memang disanalah seharusnya aku turun. 

Akhirnya, setelah beberapa jam aku lalui dijalan, akupun tiba di depan perumahan yang memang menjadi tujuan terakhirku. Dengan tergesa-gesa kukeluarkan beberapa lembar uang seribuan dari saku celanaku. Kemudian ku jejakkan kakiku ke tanah, seraya memanggil salah satu tukang ojek yang sedang bertugas malam itu. Dan akupun kembali pulang.




Hukum Mencabut Atau Mencukur Bulu Alis Bagi Kaum Wanita

Sebagian kaum wanita pergi ke salon untuk memperindah alis mata
mereka. Lalu perias salon itu mencukur atau menggunting sebagian bulu
alisnya, bagaimanakah hukumnya?
Alhamdiulillah, menggunting bulu alis atau merapikannya dengan mencukur
bagian-bagian
tertentu untuk memperindah alis mata seperti yang dilakukan sebagian
kaum
wanita hukumnya haram. Karena hal itu termasuk mengubah ciptaan Allah
dan
mengikuti setan yang selalu memperdaya manusia supaya mengubah
ciptaan Allah.

Allah berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu)
dengan Dia, Dan Dia mengampuni dosa yang lain dari syirik itu bagi siapa
yang
dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan
Allah,
maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. Yang mereka
sembah selain
Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu)
mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka, yang dila'nati
Allah dan syaitan itu mengatakan:"Saya benar-benar akan mengambil dari
hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untuk saya), dan
aku benar-benar
akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong
pada mereka
dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak),
lalu
mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (merobah
ciptaan
Allah), lalu benar-benar mereka merobahnya". Barangsiapa yang 
menjadikan
syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita
kerugian
yang nyata." (QS. 4:116-119)

Diriwayatkan dalam Kitab Ash-Shahih (Al-Bukhari dan Muslim) dari Ibnu
Mas'ud
Radhiyallahu 'Anhu bahwa ia berkata: "Semoga Allah melaknat
wanita-wanita
yang mentatto dirinya atau meminta ditattokan, yang mencukur bulu alisnya
atau meminta dicukurkan, yang mengikir giginya supaya kelihatan indah
dan
mengubah ciptaan Allah." Kemudian beliau berkata: "Mengapa aku tidak
melaknat orang-orang yang telah dilaknat oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
wa Sallam dalam Kitabullah, yakni firman Allah:

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia.Dan apa yang
dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." (QS. 59:7)


Source: www.islamqa.com


~ Ego ~

By. Sekar Samantha


Aku berdiri diatas keakuanku
Aku terpasung pada keegoanku
Dan aku terkungkung di dalam keabnormalanku sendiri,

Mereka sebut hatiku yg rapuh tak layak untuk menempati sebuah ruangan kecil dihatimu
Mereka sebut tubuhku yg lemah tak pantas untuk bersanding dengan eloknya tubuhmu
Dan mereka sebut akalku yang sakit tak akan pernah bisa berdampingan dengan akal sehatmu,

Fisik kami memang berbeda
Tapi perasaan kami adalah sama

Kami sama-sama untung, dan kami sama-sama buntung
Tak ada yang dapat mengerti, karena memang bukan untuk dimengerti

Setiap hasrat adalah sama
Setiap  pemikiran adalah sama
Dan setiap tujuan adalah sama

Namun sudut pandang kami beda
Cara kami berfikir dan bersikap juga berbeda

Lantas, akankah setiap perbedaan yang ada akan mematahkan setiap persamaan itu?

Seharusnya tidak…

-Teruntuk mereka yang dilanda Ego-





9 Strategi Setan Menjerumuskan Manusia

Sebelum kita mengetahui strategi setan menjerumuskan manusia, ada baiknya terlebih dahulu mengetahui Visi dan Misi setan. Visi setan adalah memperbudak manusia dan Misi setan mengkondisikan manusia lupa kepada Alah SWT. Adapun strategi setan untuk mewujudkan visi dan misinya adalah sbb :

1. Waswasah
Waswasah artinya membisikkan keraguan pada manusia ketika melakukan kebaikan atau amal sholeh. Saat kumandang azan subuh dan tubuh kita masih dililit selimut, terbersit dalam pikiran kita, "Nanti lima menit lagi". Ini adalah waswasah. Kenyataannya bukan lima menit tapi satu jam, akhirnya Sholat Shubuh terlambat bahkan tidak sholat.

2. Tazyin
Tazyin artinya membungkus kemaksiatan dengan kenikmatan. Segala yang berbau maksiat biasanya terlihat indah, Misalnya, mengapa orang yang berpacaran lebih mesra daripada suami-istri? Jalan-jalan saat pacaran lebih mengesankan daripada setelah menikah. Ini karena ada unsur tazyin. Pacaran itu maksiat, sementara nikah itu ibadah. Maksiat disulap oleh setan sehingga terasa lebih indah, nikmat dan mengesankan. Inilah yang disebut strategi tazyin.

3.Tamanni
Tamanni artinya memperdaya manusia dengan khayalan dan angan-angan. Pernahkan terbersit niat akan Shalat Tahjud saat merebahkan badan di tempat tidur? Namun pada jam tiga saat wekwr berbunyi, kita cepat-cepat mematikannya lalu meneruskan tidur. Pernahkan kita ingin bertobat? Namun pada sat maksiat ada di depan mata, kita tetap saja melakukannya. Ironisnya ini berlangsung berkali-kali. Inilah yang disebut strategi tamanni.

4. A'dawah
A'dawah artinya berusaha menanamkan permusuhan. Setan berikhtiar menumbuhkan permusuhan di anatara manusia. Biasanya permusuhan berawal dari prasangka buruk. Supaya manusia bermusuhan, setan biasanya menumbuhkan prasangka buruk.Karena itu waspadai kalau kita berprasangka buruk pada orang lain, sesungguhnya kita telah terperangkap strategi setan.

5. Takwif
Takwif artinya menakut-nakuti. Pernahkah merasa takut miskin karena menginfakkan sebagian harta, takut disebut sok alim karena datang ke majelis taklim? Kalau kita pernah merasakannya, inilah strategi takhwif.

6. Shaddun
Shaddun artinya berusaha menghalang-halangi manusia menjalankan perintah Allah dengan menggunakan berbagai hambatan. Pernahkah anda merasa malas saat mau melakukan sholat, atau mengantuk saat membacaAl Qur'an meskipun sudah cukup tidur? Ini adalah gejala shaddun dari setan.

7. Wa'dun
Wa'dun artinya janji palsu. Setan berusaha membujuk manusia agar mau mengikutinya dengan memberikan janji-janji yang menggiurkan. Akhirnya manusia mempercayainya. Misalnya, banyak kasus seorang wanita menyerahkan dirinya pada sang pacar karena dijanjikan akan dinikahi, namun setelah hamil sang pacar meninggalkannya begutu saja. Dia tidak mau bertanggung jawab. Inilah contoh wa'dun atau janji palsu dari setan.

8. Kaidun
Kaidun artinya tipu daya. Setan berusaha sekuat tenaga memasang sejumlah perangkap agar manusia terjebak. Pernahkah saat diberi tugas, kita berpikir nanti saja mengerjakannya krn waktu masih lama? Ternyata setelah dekat waktunya kita mengerjakan asal-asalan dan tergesa-gesa sehingga hasilnya tidak optimal atau ada kemunginan pada waktu yang ditentukan pekerjaan tidak selesai. Strategi ini disebut kaidun.

9. Nisyan
Nisyan artinya lupa. Sesungguhnya lupa itu adalah hal yang manusiawi. Lupa memang sesuatu hal yang manusiawi, tetapi setan berusaha agar manusia menjadikan lupa sebagai alasan untuk menutupi tanggung jawab. Pernahkan kita lupa menunaikan janji? lupa sholat? Kalau sesekali itu bisa disebut manusiawi, tetapi kalau sering dilakukan berarti terjebak strategi nisyan.
Demikian ringkasan tentang strategi setan. Semoga kita dapat mencermati dan berusaha agar tidak terjebak strategi setan laknatullah (setan yang dilaknat Allah)

  Wallohualam bissowab

(author:unknown)






Gua nggak butuh sholat! Buat apa sih Sholat?

Mohon maaf bila judulnya bikin emosi. insyaAllah isinya gak separah judulnya, itu cuman bikin penasaran aja. Saya cuman pengen berbagi, saya dapet email dari temen di sebuah milis. email itu isinya cerita begini:

Anak : Pa, solat itu buat apa sih?

Ortu : (menghardik) Udah, lu jangan tanya-tanya macem-macem.. kapir lu nanti!

Anak : (terdiam)

Belasan tahun kemudian, si anak bertemu lagi dengan saya. Mana saya tahu kalau dia dulu tunya-tanya kayak gitu kan ? Biar gampang, kita sebut aja dia Boni.

Saya : Woy, jumatan atuh.. orang-orang udah pada ngabur!

Boni : Hoream ah…. keur naon solat? (males ah, buat apa sholat?)

Saya : (untung ajah, dulu kenyang di plonco adik PAS) Dasar.. Ari kamu sholat buat apa?

Boni : Saya mah, sholat kalo butuh dong. Nggak solat kalo aku nggak merasa butuh. Solat itu harus merupakan kebutuhan, bukan kewajiban dong. Tuhan nggak butuh solat kita, yang butuh itu kita! Sekarang gua lagi nggak butuh solat, jadi buat apa gua solat. PEUN.

Saya : Itu betul, memang kita harus punya sense ‘butuh’ terhadap sholat. Tapi, menurut gua, kita tetep ‘wajib’ sholat, meskipun kita sedang tidak ‘butuh’.

Boni : Buat apa? Menurut gua, disitulah letak nggak gunanya solat.
Lebih cuih lagi, kalo orang solat buat ngejar ‘gelar’, gua paling nggak suka!

Saya : Maksud loe?

Boni : Ya itu, jenis-jenis manusia yang solatnya buat pamer, kalo dia itu paling soleh!! Menurut gua sih, kalo die solat seribu rokaat juge, kalo abis solat die korup, die membunuh, die menjelekkan orang, menggunjing, tetep aje die tu, lebih buruk, dibanding orang nyang gak solat tapi berbuat baik sama orang lain!

Saya : Lu bener di satu sisi..Orang yang menzalimi orang lain, meski solat, tetep lebih buruk dibanding yang gak solat tapi berbuat baik

Boni : Tuu, bener kan gue!

Saya : Tapi di sisi lain, lu juga salah Bon! Menurut saya nih, solat tetep wajib!

Boni : Salah gimane? Ah paling lu mau ngeluarin ayat.

Saya : Ok, kita pake akal aja. Nah, sekarang saya mau nanya neh. Gaji lu berapa Bon?

Boni : Rahasia dong.. yah oke deh, sekitar 3-an lah

Saya : Lu kerja berapa jam sehari tuh, buat 3-an itu? 8 jam sehari ada nggak?

Boni : Ya iya lah.. lebih kali

Saya : Selain itu, saya yakin kalo lu dapet segitu, karena skill dan gelar lu kan ? Gak cuma karena kerjaan lu. Yang jelas, pengorbanan lu untuk dapet gaji segitu, lebih banyak dari sekedar kerja 8 jam sehari. Bener gak?

Boni : Bener banget! Tapi segitu juga udah untung. Gua suka dapet bonus, jadi gua yah, berterimakasih banget dah, sama Boss gua. Dia care banget sih sama kita.

Saya : Nah, Bon, ngomong-ngomong lu pernah denger ada jual beli ginjal gak buat transplantasi?

Boni : Oh iya dong, gile, satu ginjal ada satu milyar kali! Gua sih nggak bakal jual. Gila aja kali! Ntar gua pake apa dong?

Saya : Nah lu dikasih semilyar, kok gak mau berterimakasih sama sekali?

Boni : Bentar-bentar gua nggak ngerti neh.. dikasih semilyar gimana?

Saya : Tuh, mata loe… harganya berapa? Ok, ginjal satu milyar kan ? Oh ya, belon ntu tuh, kuping, mulut, muka… hm, loba euy (banyak euy), semua jatuhnya berapa ya? Trilyunan tuh.
Tapi semuanya dikasih gratis…

Boni : ……..

Saya : Bon, Sekali lagi neh, menurut aku, sholat tetep wajib, karna, itu salah satu cara kita untuk berterimakasih sama Yang ngasih badan kita, rejeki kita, keberuntungan kita, yah, segalanya yang udah Dia kasih dah.

Kita rela bekerja 8 jam sehari untuk mendapatkan 3 juta rupiah. Kita sangat berterimakasih sama orang yang ngasih kita tambahan bonus sekedar seratus-duaratus ribu, tapi kita kadang lupa berterimakasih sama ’seseorang’ yang ngasih kita mata, mulut, tangan, kaki, ginjal, yang harganya jauh lebih mahal kalo kita jual. Well, bahkan bisa dibilang tak ternilai harganya. CUma orang kepepet berat atau orang bodoh yang mau jual badan dia sendiri.

Memang idealnya, orang solat tuh terhindar dari perbuatan buruk. Toh solat kan aslinya mencegah perbuatan buruk, dan membuat kita terbiasa melakukan perbuatan baik. Tapi itu kalau dia menghayati makna sholat sebagai sarana mengingat Tuhan, bukan sekedar menggugurkan kewajiban (seperti saya hehehe).

Di situasi ideal ini, selepas sholat, orang jadi mengingat kembali, betapa banyak yang Tuhan berikan dan lakukan demi kebaikan kita. Coba aja telaah arti bacaan shalat dan arti gerakan solat. So pasti lu temukan deh, banyak bacaan solat maknanya kearah ini.

Karena dia ngeh bahwa Tuhan selalu melihat, dan telah banyak berbuat buat dia, dia bakal berfikir 1000 kali buat berbuat hal yang nggak Tuhan sukai.

yah kalo solatnya sekedar nyari gelar seperti yg lu bilang sih, memang gak bakal ada manfaatnya.

Tapi lu cerdas Bon, lu juga SQ-nya tinggi, makanya lu nggak mau solat sekedar menggugurkan kewajiban. Karena itu, lu pasti ngerti bahwa solat tetep wajib, meski kita lagi nggak butuh solat. Kita wajib solat, untuk berterimakasih sama yang telah ngasih kita segalanya.

Boni : Seandainya dulu bapa gua ngejawab kayak gitu, gua mungkin gak bakal terlalu anti solat ya…

Saya :? ???

Boni : Sudahlah, gak usah dibahas… Tapi thanks ya.. gua jadi ngerti neh.

(source:kaskus.us, author:unknown)


Sunday, November 13, 2011

~ Damai Jiwa Bersama MU ~

By. Sekar Samantha


Ku ingin tuangkan hasrat ini bersamaMu,

Ku ingin lantunkan tembang cinta bersamaMu,

Dan, ku ingin berbagi perasaan cinta ini bersamaMu.

Sungguh, tiada yang dapat mencintaiku seperti Kau mencintaiku..

Dukaku, laraku, dan tangisku hanya bisa terhapuskan dikala aku coba ’tuk

Mengingat diriMu..

Bahagiaku, riangku, dan semua tawa candaku ini tiada artinya jikalau tanpa

diriMu disisiku..

Menangisku karenaMu,

Bahagiaku karenaMu..

Dan..

Kuserahkan jiwa dan raga ini hanyalah kepadaMu..



Wahai Sang Pemberi Nafas Kehidupan..

Ijinkanlah aku ’tuk menyebut namaMu disetiap gerak-gerikku..

Ijinkanlah aku ’tuk menyebut namaMu disetiap jejak langkahku..

Dan, ijinkanlah aku ’tuk menyebut namaMu disetiap malam-malamku..


Wahai Sang Pemberi Cahaya Kehidupan..

Jadikanlah aku kekasih hatiMu..

Jadikanlah aku permaisuriMu..

Dan, jadikanlah aku bidadari di singgasanaMu..

Namun, Wahai Sang Penguasa Kehidupan..

Kini kuterhenyak..

Pantaskah aku bersanding denganMu ?

Pantaskah aku menjadi bagian daripadaMu ?

Dan, pantaskah aku singgah di singgasanaMu ?

Setelah apa yang telah kuperbuat terhadapMu ?